[Oneshot] INSANE: The End and The Beginning (Before Story of INSANE)

Before of INSANE: The End and The Beginning

cover insane

Title: Before of INSANE: The End and The Beginning/The Fault of My Mind

Author: Anita Han (Anita R Sidiqqa)

Genre: Psychology, Crime, Thiller, Horror

Rating: T/PG-15

Length: Oneshot ( 3,003 words)

Cast:

  • Cho Kyu Hyun (14 years old)
  • Choi Soo Young (12 years old)
  • Others

Disclaimer:

My Imagenation, My Story, My Law. Don’t Copy It! It’s Ilegal! Jika ada kesamaan, kontak Anita di twitter @haloohan atau di e-mail anita.sidiqqa1213@gmail.com

Note :

Mianhae jika ada typo *bow* Ini merupakan cerita flashback dimana Kyuhyun mendapatkan suatu pemahaman yang mengubahnya. Dan sebelum membaca fanfiction ini diharapkan untuk membaca fanfiction INSANE terlebih dahulu (klik di sini).

*^^* Happy Reading *^^*

 

“Awal dan akhir adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Tidak akan ada akhir jika tidak ada permulaan yang mengawali sebuah awal.”

 

 

***

 

 

 

All of POV is Kyuhyun’s POV

 

 

Prolog

March 8th, 1998 (Kyuhyun was 8 years old)

Hidupku terlalu mudah. Terlahir dari anak pengusaha kaya raya. Memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata dan bahkan IQ-ku hampir mencapai 200. Memiliki wajah yang menurutku tampan dengan kulit putih dan rambut yang agak ikal yang aku miliki dan yang membuat para gadis terpesona oleh kesempurnaan wajah rupawanku (dan statusku). Apakah ucapanku terlalu dewasa? Hey! IQ-ku tinggi, tak aneh pemikiranku ini seperti orang dewasa. Padahal aku masih berumur 8 tahun. Hidup ini sangat membosankan. Aku tak tahu apa yang aku inginkan dan yang aku cari. Semua terpenuhi, kalian sudah tahu akan hal itu.

***

“Kyuhyunie~ Bisakah kau membantu eomma? Tolong antarkan kue ini ke tetangga baru kita.”

“Baik, eomma.”

Aku menuruti permohonan eomma untuk mengantarkan kue ini. Eomma senang memasak. Bahkan kami berempat (appa, eomma, noona dan aku) kadang kala tak sanggup untuk menghabiskan masakan buatan eomma. Ini salah satu kegiatannya jika kami mendapatkan tetangga baru. Perumahan ini masih tergolong sepi dengan beberapa rumah saja.

Ding~ Dong~

Aku memencet bel rumah tetangga baruku. Dan ketika aku menengok ke kanan tak sengaja aku menemukan seorang gadis kecil yang tengah bermain boneka barbie di halaman rumah ini. Kenapa aku baru menyadarinya?

“Eomma~ Ada orang asing masuk ke rumah kita!”

Anak kecil itu berteriak dengan suaranya yang sangat nyaring. Tiba-tiba pintu rumah dihadapanku ini terbuka dan menampakan seorang wanita yang sedikit lebih muda dibandingkan dengan eommaku.

“Annyeonghaseumnida~ Aku Cho Kyuhyun. Eomma memberikan kue ini untuk imo. Kalian tetangga baru kami.”

“Ah~ Gamsahamnida Kyuhyun. Youngie beri salam kepada kakak laki-laki ini.”

Anak kecil itu kemudian bangkit dari duduknya dan berlari kecil ke arah eommanya dan bersembunyi di belakang eommanya. Dia takut padaku? Hey! Adakah orang jahat berwajah tampan dan imut sepertiku?

“Tenanglah. Dia bukan orang jahat. Perkenalkan dirimu. Dia tetangga kita.”

“Annyeonghaseumnida. Aku Choi Sooyoung. Umurku 6 tahun.”

Aku dan eommanya hanya tertawa. Anak yeoja itu memperkenalkan dirinya lengkap dengan umurnya.

“Aku Cho Kyuhyun. Kau bisa memanggilku oppa karena umurku 2 tahun lebih tua darimu.”

(Ket: Salah satu ciri anak ber-IQ tinggi adalah kosa katanya yang berbeda dari anak yang lain. Kyuhyun bisa saja menjawab “Kau bisa memanggilku oppa karena umurku 8 tahun.” Yang dikarenakan 8 lebih besar dari 6. Tapi pemikiran anak jenius tidak sesederhana itu. Dia lebih memilih menjawab “…karena umurku 2 tahun lebih tua darimu.” Itu menunjukan ada proses berhitung agar kita tahu umur yang sebenarnya yaitu 8 tahun dari 6 + 2. Dan ada penambahan kosa kata lebih tua yang merujuk pada penambahan (+). Dan orang psikopat umumnya ber-IQ tinggi.)

***

Dia anak kecil yang manis, periang, manja dan terlalu banyak bicara. Aku sering bermain dengannya. Walaupun sebenarnya yang bermain adalah dia sendiri. Aku lebih sering membaca buku atau semacamnya sementara dia mengoceh dengan barbie dan jalan cerita yang dia buat sendiri. Pangeran, putri, sihir, keajaiban dan semacamnya. Aku hanya menemaninya saja karena kedua orang tua kami sungguh sibuk.

“Oppa, bagaimana rasanya sekolah?”

“Biasa saja, tidak ada hal yang aneh.”

“Oppa suka pelajaran apa?”

“Matematikan dan apapun pelajaran yang berhubungan dengan analisis dan strategi.”

“Strategi? Eonniku pernah bilang saat dia pulang, kalau permainan catur ada strateginya. Jadi oppa menyukai catur?”

“Mungkin. Tapi oppa lebih suka dengan PSP. Siapa eonnimu itu? Oppa tidak pernah melihatnya.”

“Dia tinggal di Amerika bersama nenek dan kakek. Kadang-kadang appa, eomma dan aku datang mengunjunginya. Dia suka di sana. Mungkin karena dia lahir di sana. Sudah 4 tahun dia di sana.”

Begitulah keseharian kami. Kebanyakan dari waktu yang terbuang itu diisi dengan pertanyaan-pertanyaan dari Choi Sooyoung.

***

March 9th, 1999 (Kyuhyun was 9 years old)

“Hari ini hari pertamaku sekolah. Aku pasti kesulitan mendapatkan teman. Nanti di sekolah oppa harus bermain denganku!”

Ya memang benar. Sooyoung sekarang berusia 7 tahun dia mulai bersekolah sebagai murid kelas satu. Dia bersekolah di tempatku bersekolah juga. Dia seperti perangko bagiku.

“Sebentar lagi kau juga akan mendapatkan teman.”

***

May 15th, 2000 (Kyuhyun was 10 years old)

 

 

Hari-hariku lebih menyenangkan 2 tahun belakangan ini. Mungkin karena ada Sooyoung. Dia seperti adik perempuan bagiku. Aku memang mempunyai noona, tetapi kami tidak terlalu dekat. Namanya Cho Ah Ra. Dia saudara tiriku. Ibuku dengan ibunya berbeda. Ibunya telah meninggal karena sakit dan appa menikah lagi dengan eommaku. Mungkin karena itu kami tidak terlalu dekat. Tapi walaupun dia tidak dekat denganku, dia dekat dengan eommaku. Dia sering mengatakan bahwa aku anak emas appa. Sepertinya dia tidak menyukaiku.

“Oppa, Ah Ra eonni ke mana? Aku ingin bermain dengannya lagi. Dia seperti eonniku.”

Begitulah Choi Soo Young. Apapun akan dia tanyakan. Dia sangat menjengkelkan.

***

April 2nd, 2003 (Kyuhyun was 13 years old)

Di sekolah selain banyak yang menyukaiku, banyak pula yang tidak menyukaiku. Mereka – yang tidak menyukaiku sering menjahiliku dan yang lainnya. Banyak pula yang mencari masalah denganku. Kebanyakan dari mereka hanya iri terhadapku. Tapi aku selalu diam saja jika mereka menjalankan aksinya itu. Mereka tidak lebih dari pengganggu! Seonggok sampah!

Seperti halnya sekarang. Mereka mengajakku untuk berkelahi. Apa gunanya melayani mereka dan menuruti kemauan mereka. Mereka bukan sekelompok orang yang harus aku patuhi.

“Heh, Cho Kyu Hyun. Sudah besar kepalakah kau? Mendapatkan banyak kemudahan atas kehidupanmu. Kau tak ada gunanya. Hanya diam dan menunggu semuanya menghampirimu. Aku yakin kepalamu sudah berat.”

Kau tahu darimana aku menyukai kehidupanku ini. Tidak ada tantangan. Hanya ada air laut yang tenang. Seberapa pun kau berusaha untuk memainkan air lautku itu. Dia tidak akan menjadi ombak. Tenang dan damai. Aku bosan. Menurutimu pun tak ada gunanya.

***

Feb 3rd, 2005 (Kyuhyun was 15 years old)

 

 

“Saengil chukhaehamnida Kyuhyun oppa!”

Begitulah isi pesan dari Choi Sooyoung. Ini pukul 12.02 a.m. Mungkin dia berniat mengirim sms ini pukul 12.00 a.m (tengah malam). Tapi bukankah setiap jam orang lain berbeda? Aku tersenyum membaca pesan itu. Mengapa aku tersenyum?

09.00 a.m

Pesta ulang tahunku dirayakan di rumahku. Hanya ada keluargaku, keluarga Sooyoung dan beberapa temanku yang hadir di pesta ulang tahunku, bisa dihitung dengan jari. Aku sedikit tertutup. Walaupun aku terkenal disekolah karena statusku dan aku merupakan peringkat pertama umum sekaligus juara olimpiade matematika tingkat nasional tidak membuatku lebih bisa mendapatkan banyak teman. Bukan karena tidak ada yang mau. Tetapi bukan itu yang aku butuhkan. Perlu aku tegaskan, kehidupanku sangat mudah dan membosankan! Bukan itu yang aku cari dan bukan yang aku butuhkan.

***

“Hey kau, Choi Soo Young! Jangan dekati Cho Kyu Hyun! Dia milikku. Apakah kau menegerti?”

“Dia temanku dan seperti kakak laki-laki bagiku. Apa maksudmu itu?”

Aku mendengar apa yang seorang yeoja katakan kepada Choi Soo Young. Entah mengapa, aku benar-benar marah mendengarnya. Dia – yeoja itu tidak menyadari keberadaanku yang berdiri di belakangnya.

“Apa yang kau maksudkan? Jangan membentak Choi Soo Young atau kau akan merasakan akibatnya.”

Ucapanku terdengar dingin. Sangat dingin hingga aku yakini dapat menusuknya. Menusuk tulang-tulangnya. Aku melihat seragamnya dan membaca namanya. Kang Seul Gi. Dasar jalang!

Dia hanya menunduk dan menjauhi kami. Rupanya dia mengerti apa yang aku katakan.

“Oppa, mengapa kau kasar sekali?”

“Dia membentakmu. Aku tak menyukai hal itu.”

“Oh~ Kau sungguh perhatian oppa.”

Dia pergi menuju kelasnya. Sekarang dia ada di tingkat pertama sekolah menengah tahap awal. Kyunghee Junior High School (Gak ada? Ada-adain aja). Dan aku di tingkat tiga. Sudah aku bilang dari dulu, dia seperti perangko bagiku.

***

Dengannya hatiku menghangat. Aku dikenal sebagai orang yang dingin. Hari-hariku kebanyakan dihabiskan dengannya. Entah mengapa hanya kepada dia jantungku bersikap tak biasa. Ada sesuatu dalam dirinya. Dia bagaikan kutub utara dalam magnet dan aku kutub selatannya. Aku tidak tahu entah apakah itu. Perlahan aku mulai mengenang masa-masaku dulu bersamanya. Terutama saat merayakan hari ulang tahun. Ulang tahunnya berbeda beberapa hari denganku. Sudah 7 tahun belakangan ini aku merayakan ulang tahunku hanya dengannya. Kecuali saat ulang tahun ke-15-ku. Appa sibuk dengan pekerjaannya. Eomma sibuk dengan butiknya. Dan Ah Ra noona, sudah aku bilang aku tidak terlalu dkat dengannya. Dia kadang menghabiskan waktu bersama eomma. Eomma seorang designer dan Ah Ra suka untuk memakai baju karya eomma. Mereka dekat.

Hanya dengan Soo Young. Hanya dia. Ada sesuatu dalam dirinya. Aku tak tahu apakah itu. Itu seperti sebuah teka-teki. Atau mungkin labirin yang tak berujung. Dia seperti oven dalam tubuhku. Aku tidak tenang dengannya. Hatiku. Bahkan otakku tak mampu berpikir, mengapa ini semua terjadi. Hanya padanya.

Apakah karena dia yang menjengkelkan, menyebalkan, banyak bicara, periang? Hidupku lebih berwarna. Aku hanya putih. Hanya cahaya putih. Dan dia seperti prisma. Dia menguraikan warna putihku menjadi banyak warna.

1998

“Aigo~ Sakit. Lututku berdarah.”

 

 

“Lain kali jalan dengan kaki kanan dan kirimu. Atau semua kakimu itu adalah kaki kiri?”

 

 

1999

 

 

“Oppa, ucapkan permintaanmu. Hari ini kau menjadi rajanya. Aku akan mengabulkannya.”

 

 

“Berikan semua koleksi gamemu padaku.”

 

 

“Hya~ Aku tak bisa mengabulkan hal itu. Minta yang lain saja.”

 

 

2000

 

 

“Kau akan kalah kali ini oppa.”

 

 

“Tidak akan. Aku sudah memenangkan game ini untuk sepuluh ribu kali. Dan sekarang akan menjadi sepuluh ribu satu kali.”

 

 

“Aku akan mengalahkan rekormu itu dengan menjadi yeoja yang akan mengalahkan namja yang telah memenangkan sepuuh ribu kali dalam game ini.”

 

 

2001

 

 

“Oppa, ini sangat menyenangkan. Kita akan menaiki apa lagi?’

 

 

“Mungkin itu.”

 

 

“Atau itu.”

 

 

“Ya. Atau itu.”

 

 

“Atau itu?”

 

 

“Ya. Dan itu.”

 

 

“Atau itu…?”

 

 

“Berhentilah mengulang kalimat itu!”

 

 

“Kita akan menaiki itu?”

 

 

“Kya~ Itu sama saja. Aku bilang berhenti. One by one, Ok!”

 

 

2002

 

 

“Sebentar lagi kaau akan berpisah sekolah denganku. Kau akan bersekolah dimana oppa?”

 

 

“Kyunghee Junior High School”

 

 

“Kedengarannya bagus. Aku juga akan kesana.”

 

 

“Dasar penguntit.”

 

 

“Aku bukan penguntit.”

 

 

Aku terus menggodanya.

 

 

“Plagiator.”

 

 

“Aku bukan plagiator!”

 

 

“Tak punya pedoman.”

 

 

“Yak! Berhenti bicara.”

 

 

“Stalker.”

 

 

“Apa itu?”

 

 

“…”

 

 

2003

 

 

“Apakah kau nyaman di sekolahmu yang baru?”

 

 

“Biasa saja.”

 

 

“Kau sungguh tak ada ekspresi.”

 

 

2004

 

 

“Sebentar lagi kita akan berangkat dan pulang sekolah bersama lagi. Aku harus giat belajar agar bisa masuk ke Kyunghee Junior High School”

 

 

“Dasar penguntit!”

 

 

“Yak!”

 

 

***

“Annyeong~ Kau Choi Soo Young dari kelas 7-4 kan?”

“Ya. Ada apa.”

“Ternyata kau lebih cantik dari yang temanku katakan. Aku Kim Myung Soo.”

Namja itu menyodorkan tangannya di hadapan Choi Soo Young. Aku hanya mengamati mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh.

“Choi Soo Young imnida.”

Soo Young menerima jabatan tangan namja itu. Hatiku tiba-tiba menjadi tidak tenang. Tiba-tiba aku berusaha berpikir untuk membuat suatu hal kepada namja itu. Mengapa seperti ini?

***

Bel pulang sudah berbunyi. Aku sudah memberi tahu kepada Soo Young bahwa hari ini aku tidak bisa pulang bersamanya. Ada suatu hal yang akan aku lakukan.

***

Aku terus saja mengikuti Kim Myung Soo. Aku tak bisa melakukannya di dekat sekolah. Aku takut Soo Young akan melihatku atau pun temannya dan berujung pada mengadukannya kepada Soo Young.

Setelah aku kira sudah cukup jauh dari lingkungan sekolah, aku menampakkan diriku di hadapan Kim Myung Soo.

“Kau siapa? Bukankah kau temannya Soo Young?”

“Jangan dekati Soo Young, atau kau akan merasakan akibatnya.”

“Apakah ini sebuah ancaman? Kedengarannya sangat menakutkan?”

Dia menyeringai merendahkanku. Dia belum tahu siapa diriku rupanya.

Aku pun bergerak cepat. Dia seperti tidak menyadari gerakanku. Aku pun memegang tangannya membalikannya membelakangiku dan aku memelintir tangannya.

“Arrggh!”

“Kau sudah aku peringatkan. Peringatan apa yang akan bekerja padamu, huh?”

Aku pun mengambil sebuah puntung rokok yang masih menyala di jalanan. Terlihat dari asap yang muncul darinya. Mengambilnya tanpa melepaskan tanganku dari tangannya.

Aku pun menempelkan sisi panas pada puntung rokok itu ke tangannya dan dia meringis kesakitan.

“Arrgh!”

“Jika kau masih mendekatinya akan aku pastikan kau akan mati.”

“Ok! Aku tak akan mendekatinya. Sekarang lepaskan aku.”

Aku mendorongnya ke depan dan dia tersungkur di jalanan. Dia meringis kesakitan kemudian meniup-niup luka bakar pada tangannya. Hasil perbuatanku.

“Kau orang yang gila!”

Aku tak mempedulikan ucapannya dan melangkah menuju rumah. Aku akan pulang. Ada kepuasan setelah aku menyakitinya. Ada apa dengan diriku? Ini tidak benar. Aku seperti mendapatkan jiwaku. Hidupku tak bosan seperti dulu lagi. Dan ini adalah karena Choi Soo Young… lagi.

***

“Kyu Hyun-ah, ini hadiah dari appa.”

Appa menyerahkan sebuah kunci.

“Itu kunci apartemen. Apartemen di distrik gangnam.”

“Untuk apa apartemen itu?”

“Anggap saja sebagai tempat pribadimu. Kau pernah bilang ingin berkuliah di Dongguk University. Kau bisa menempatinya nanti atau sekarang pun tak apa, jika itu kemauanmu.”

“Gomawo appa.”

***

Keanehanku semakin menjadi. Aku selalu memotret Choi Soo Young dalam berbagai ekspresi. Bahkan aku mencetak ulang beberapa foto masa kecil Soo Young. Dia cantik. Aku menyukainya.

“Apa yang akan aku lakukan dengan semua foto-foto ini. Appa, eomma dan Ah Ra akan curiga dengan keanehanku.”

Aku pun mendapatkan ide. Aku pergi sendirian ke daerah distrik gangnam. Apartemen. Ya. Aku akan menyimpan semua foto Choi Soo Young dalam apartemenku itu. Aku tak ingin membuang satupun foto Choi Soo Young. Aku tak mau kehilangan foto-fotonya.

***

Aku berjalan ke katin bersama Soo Young yang berjalan di depanku. Semua namja menghindari Choi Soo Young. Bagus. Mereka mengerti rupanya. Mereka cukup pintar.

“Oppa, mengapa mereka menjauhiku. Mengapa? Terutama namja? Apakah aku jelek?”

“Tidak kau cantik. Sangat cantik. Jadi tuan putri yang cantik, jangan mempedulikan mereka.”

Pipi Soo Young memerah atas pujianku. Dia tambah cantik ketika pipinya bersemu merah. Mereka bukan menjauhimu, lebih tepatnya takut padaku jika mereka dekat denganmu.

Flashback On

“Arrgh!”

Aku mematahkan tangan kiri seseorang.

“Jangan mendekati Choi Soo Young! Dan jangan beritahu siapapun tentang hal ini. Maka kau akan mendapatkan akibat yang lebih parah. Jangan sampai Choi Soo Young tau. Camkan itu!”

***

Pergelangan kakinya terkilir. Dan aku pelakunya.

“Yak! Gila! Apa yang kau lakukan, huh?”

“Kau. Jauhi Choi Soo Young!”

***

Bahkan kalau perlu, aku akan melakukanya di sekolah…

Aku mendorongnya dan membenturkannya pada dinding.

“Apa yang kau mau, huh? Dasar gila!”

Tap… Tap…

Sreet!

Aku melukai tangan kananku dengan pisau silet yang aku pegang di tangan kiriku. Dan kemudian membuang pisau silet itu. Apa yang aku lakukan tadi membuatnya memelototkan matanya tak percaya.

“Ada apa ini?”

Tanya seorang guru yang mendengar teriakannya tadi.

“Arrgh! Dia melukaiku dengan pisau silet, Seonsangnim.”

“Jeong Kook! Apa yang kau lakukan?”

Seonsaengnim membentaknya.

“Tapi… aku…”

“Kau harus mendapatkan hukuman atas hal ini.”

Namja yang bernama Jeong Kook itu akhirnya menyerah dan mengikuti Seonsaengnim dari belakang. Katika kami berpapasan, aku membisikan sesuatu padanya.

“Jauhi Choi Soo Young. Kau tahu apa akibatnya.”

Dia pun perlahan menjauh dariku.

“Arggh!”

Aku merintih dan dia menengok ke arahku. Dan aku hanya menyeringai. Tanpa mempedulikan darah yang mengucur dari tanganku menuju jariku. Kemudian aku mengunakan jari telunjukku yang terkena darah dan menuliskan pola lurus mendatar di leherku. Memberi isyarat kepadanya. Dia bergidik ketakutan. Dan segera memalingkan mukanya.

Flashback Off

***

Aksiku berdampak seperti yang aku inginkan. Tak ada lagi yang berani mendekati Choi Soo Young. Mereka tak akan berani untuk melaporkanku. Aku anak dari orang yang paling berpengaruh di Korea terutama di Junior High School ini. Appaku menjadi donatur diberbagai sekolah. Dan salah satunya adalah sekolah ini. Baru kali ini aku merasakan beruntung memiliki segalanya. Tidak ada yang berani kepadaku.

“Mereka tetap tidak ada yang mau mendekatiku. Teman-temanku sudah mempunyai namjachingu.”

Soo Young merajuk padaku. Dia sangat manis ketika sedang merajuk.

“Kau tak menyadari apa yang ada di sekitarmu.”

“Apa maksudmu oppa? Apakah ada namja yang memperhatikanku secara diam-diam? Eodiga? Eodigayo?”

Soo Young nampak antusias.

“Nuguseo? Yak! Aku bertanya padamu, oppa!”

“Kau tidak akan tahu dan tidak akan mengerti.”

“Kau pelit tak mau memberitahukan orangnya.”

Dia benar-benar tidak tahu bahwa orang yang aku maksud adalah aku sendiri. Sungguh terlihat perasaannya padaku. Dia tidak pernah berpikir bahwa aku menyukainya. Karena dia tidak berkeinginan sama sekali untuk berspekulasi bahwa aku menyukainya. Itu cukup menandakan bahwa dia hanya menganggapku seperti oppanya.

***

Diriku yang normal memberontak. Ini merupakan hal yang salah. Mengapa harus melakukan hal-hal itu? Mengapa tidak menyatakan saja perasaanmu kepada Choi Soo Young? Tidak. Aku tahu dia akan menolakku. Bukan karena aku takut akan penolakan. Tapi diriku yang lain bangkit. Tak ingin mendapakan penolakan. Aku harus menyakinkan dan membuatnya mencintaiku terlebih dahulu. Barulah aku bertindak kepadanya. Dan jika aku terburu-buru. Mungkin dia tidak akan berteman denganku lagi. Ini sangat menyiksa.

Tapi diri yang lain menikmatinya. Saat tanganku melukai mereka. Ada euforia tersendiri bagiku. Hidupku menjadi berubah. Tidak dengan hal yang datar. Air lautku kini mendapatkan ombaknya. Dan itu adalah ombak dari Choi Soo Young. Kesenangan terhanyut oleh ombak itu dan bergerak menuju daratan. Terdampar di setiap pesisir pantaiku. Ini sangat… menyenangkan. Nada kesakitan mereka seperti nyanyian Hula-Hula di Hawaii. Keterkejutan mereka seperti kenyamanan saat tidur dengan rayuan angin pantai. Melambai-lambai pada jantungku yang seperti pohon kelapa di pantai tropis.

***

Sept 12th, 2005 (Kyuhyun was 15 years old)

 

Entah ini masa pubertasku atau apa pun mengenai hal itu.

Mengapa hanya padamu, jantungku bersikap aneh.

Sepertinya aku mencintaimu yang sedang berumur 13 tahun.

Sekarang aku berniat akan mendapatkanmu,

Suatu saat nanti…

 

 

***

Akhirnya aku masuk ke Dongguk University. Umurku sekarang sudah sembilan belas tahun dan walaupun sudah terhitung empat tahun sejak perasaan ini muncul. Tetapi obsesiku tidak pernah berubah. Obsesi dan cintaku. Tetap. Choi Soo Young.

***

Epilog

“Aku menemukan diriku yang sesungguhnya karena bantuan darimu.”

 

-Cho Kyu Hyun-

Kkeut~

Akhirnya diposting juga fanfic ini. Agak susah jika membuat fanfic berdasarkan keinginan menulis. Saat menulis INSANE, ide itu tiba-tiba datang saja. Jadi gampang. Dan kalau yang ini, ini hasil dipikir-pikir (?). Bukan berarti INSANE tanpa dipikir. Hanya saja ide yang muncul mendadak itu, jujur lebih gampang dituangkan. Maaf jika banyak kekurangannya dalam fanfic ini. RCL, please… ^^

Annyeong haseyo~ ^^

Sampai bertemu lagi di…

Another of INSANE: Ma Action to Get Ya

atau

INSANE: Ma Action to Get Ya (Another Story of INSANE)

Iklan

83 pemikiran pada “[Oneshot] INSANE: The End and The Beginning (Before Story of INSANE)

  1. Haha :v
    kyu sangking pinter nya jadi terobsesi :v
    thor gua belum baca insane yg sebelumnya -‘- minta pw thor kirim ke 081213078756

  2. Yaampun merinding gitu bacanya tp seru. Akh aku gak ngerti kenapa bisa seneng sm ff2 yg ada unsur obsesi utk memiliki seseorang. Btw ff yg insane di protect minta pwnya gmn ya? Bisa tolong kirim lewat email gak thor? nimadeniti09@gmail.com terimakasih sebelumnya

  3. Blm bisa baca yg full part baca yg the end and the begining aj dl.haha…smbil nunggu PW nh dr anita han.
    Obsesi mngerikan walopun ad sisi romantisnya.bikin ff yg bigini lagi thor.😊

  4. ini cuma flashback tpi bgus yah..
    ceritanya bagus..
    minta pw bwt insane yg diprotek dong, eonnie..
    dpt pwnya hrs ada prsyaratan trtentu gk?
    aku minta lewat email ya, eonni

  5. Sebenernya ngeri baca cerita yang kayak gini… tapi tak apalah seru penggambarannya… obsesinya itu loh yang bikin greget…. di tunggu pwnya kak!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s